17 APRIL 1960

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

3 Maret 2020

BALO-BALO Kesenian Tradisional Tegal

e........ si Balo-Balo, si Balo Kembange Klapa
E........ si kembang klapa,megare nang wulan sura
PANCASILA dhasar Negara, sapa nglawan kelara-lara
Ari dendhang ala sayang saluluang

Kalimat dia atas adalah sebagian dari lirik lagu yang dinyanyikan oleh setiap Group Balo-Balo se Kotamadya Tegal pada tahun 90an. Balo-Balo yang dianggap sebagai Kesenian Tradisional Tegal, seperti keterangan bapak Saifun M Syam BA yang menjadi Kepala Kandepdikbud Kecamatan Tegal Barat pada waktu itu, sebenarnya adalah nama sebuah judul lagu yang lengkapnya adalah “Balo-Balo ratu ayu raja pulang” yang artinya mencari teman/mencari ilmu untuk bekal di hari kemudian. Namun lidah lidah masyarakat rupanya lebih fasih bila menyebut hanya dengan kata-kata “Balo-Balo”.

Kesenian daerah Tegal Balo-Balo pernah berkembang subur sewaktu zaman penjajan Belanda. Sehingga hampir di setipa kampung ada perkumpulan kesenian Balo-Balo. Tetapi sejak zaman penjajahan Jepang kesenian Balo-Balo tersebut sempat menghilang. Hal itu, seperti dikatakan oleh bapak Saifun mungkin saja karena fungsi kesenian Balo-Balo tersebut semula untuk melindungi para pejuang yang mengadakan rapat.


Maksdunya, di saat para pejuang sendang mengadakan rapat, justru saat itu para kelompok kesenian Balo-Balo beramai-ramai bermain Balo-Balo, sehingga perhatian pihak Belanda tertuju pada suara balo-balo tersebut. Sehingga setelah Indonesia merdeka kesenian balo-balo tersebut dianggap tidak berfungsi lagi.

Setelah sekian puluh tahukesenian balo-balo hilang dari kenangan masyarakat luas khususnya masyarakat Tegal, pada awal tahun 1983 atas prakarsa Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Kodya Tegal, Bapak Saifun M Syam BA yang ditugasi untuk mencari kesenian yang pas untuk daerah Tegal, maka beliau memilih seni “Balo-Balo” yang tempo dulu sempat melekat di hati masyarakat Tegal.

Adapun dasar pemilihan itu ialah karena kesenian tersebut dulu sudah memasyarakat di daerah Tegal dan bahasanyapun dengan dialek Tegal, yang berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam kesenian Srakal maupun Rudad. Yang nota bene kesenian Balo-Balo justru dimainkan sesudah selesai permainan sakral. Apabila permainan Sakral sudah selesai, setelah istirahat sejenak salah seorang memberi komando untuk meneruskan permainan lagi yang di mulai sekitar pukul 24.00 sampai dini hari.

Dan itulah yang mereka sebut dengan kesenian “Balo-Balo”. Dengan menemui beberapa orang “sisa” pemain Balo-Balo yang kini masih hidup, bapak Saifun M Syam BA berhasil mengangkat seni Balo-Balo ke atas permukaan, dan kini dinyatakan sebagai Kesenian Tradisional Tegal. “Saya kira Kabupaten Tegal dan Kotamadya Tegal sama saja”, jawab pak Saifun kepada penulis ketika ditanyakan tentang “klaim” dari Kodya Tegal atas kesenian tersebut.

Sejak saat itu dengan tidak tanggung-tanggung satu Group Balo-Balo dibawa oleh Pemda Kodya Tegal dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah tanggal 21 Agustus 1983. Lebih-lebih dengan dukungan dan dorongan Walikota Tegal saat itu Samsuri Mastur SH, seperti pemberian seperangkat peralatan Balo-Balo, kini di Kotamadya Tegal bermunculan group Balo-Balo yang tidak kurang dari 15 group, dan bahkan mereka sudah sering diadu kebolehannya dalam lomba.

Tempo Dulu
Kesenian Balo-Balo yang pemain pokoknya terdiri 4 orang ditambah beberapa orang yang menyanyikan lagu secara koor, dulunya yang dimainkan oleh orang-orang tua. Itupun hanya terbatas pada kaum laki-laki. Kemungkinan, ini juga menjadi penyebab menghilangnya seni Balo-Balo. Sebab setelah para pemain itu jompo tidak ada lagi generasi penerusnya. Demikian dugaan bapak Saifun.

Bila mereka mengadakan pentas resmi konstum yang digunakan biasanya pakaian Hitam-Hitam ala pakaian adat Tegal kuno ditambah destar (ikat kepala) wulung. Ada juga kostum lain yang katanya sudah kena pengaruh kebudayaan Islam yaitu sarung, baju putih potongan Cina dan peci hitam.

Dalam pentas, bila mereka sudah asyik terbawa oleh suara instrumen yang serupa berupa “terbang” (istilahnya terbang Jawa), serta syair lagu yang mereka nyanyikan, diantara mereka ada yang terdiri untuk menari seperti pencak silat. Lebih-lebih bila sudah sampai pada irama puncak, kadang-kadang para penontonpun ikut bertepuk-tangan yang membuat suasana bertambah semarak.

Peralatan dan lirik Lagunya
Peralatan (instrumen) yang dibutuhkan untuk satu group Balo-Balo hanya berupa 4 buah terbang yang masing-masing punya nama dan fungsi berbeda.
1.    Terbang Induk, yang ukurannya tanggung dengan kayu pemantul suara yang agak panjang berfungsi sebagai komando.
2.    Terbang Kempling, yang lebih kecil berfungsi sebagai ritme.
3.    Terbang Kempyang dan
4.    Terbang Konteng yang berukuran besar berfungsi sebagai gas/gong dan kontra bas.
Satu set peralatan tersebut harganya paling murah sekitar....................... Rp. 75.000,00

Adapun syair dalam lagu yang dibawakan dalam seni Balo-Balo dapat dibedakan menjadi dua kelompok. Kelompok A syairnya berisi nasehat, petuah, sedangkan kelompok B syairnya berisi sindiran, humor dan sebagainya. Sedang kata-kata yang digunakan pada satu bait masih ada kaitannya. Sebagai contoh syair dari kelompok A (baca syaiur pada awal tulisan ini).

Dalam lirik lagu tersebut bisa dilihat kaitan satu kata dengan kata yang lain. Bahkan mirip “wangsalan” dalam kesusasteraan Jawa. Misalnya kembang klapa (bunga kelapa) adalah manggar. Kata manggar digunakan pada kata berikutnya yaitu kata “megare”. Atau dalam lirik lain misalnya : E.............. wijil kecipir, kotor-kotor wadhahi cangkir dst. Kata wijil kecipir (isi kecipir) yaitu botor digunakan dalma kata kotor.

Sedangan kalimat asli yang “tempo doeloe” digunakan untuk senggakan atau perpindahan dari bait 1 ke bait 2 dan seterusnya yang masih sempat diingat oleh bekas pemain Balo-Balo tempo doeloe adalah :

Wilis-wilis kuning widadari mana-mana (2x)
Aduh bapak lara temen (2x(
Larane wong kena guna-guna
Ratu ayu raja pulang (3x).

Biasanya kalau syair lagu sudah habis, yang berarti permainan sudah seleai, tiba-tiba di antara mereka ada yang menyahu dengan suara melengking, E.... ana maning? (E........... ada lagi ?) Pertanyaanya tersebut kemudian dijawab, dan secara sepontanitas digubah menjadi sebuah syair lagu, seperti :

E........... anak maning, ana jaket manjing warung.
Jakete jaket ABRI, warung warunge desa.
Ana ABRI manjing desa, rakyat seneng sejahtera.

Begitu syair itu selesai, maka disahut lagi dengan pertanyaan E...... ana maning ? Maka terjadilah balas membalas dalam sebuah lagu sepeti : “berbalas pantun” sehingga permainan Balo-Balo nyaris tak terhenti sampai pagi.

Balo-Balo Masa Kini
Kalau group Balo-Balo tempo doeloe pemainnya terbatas kaum tua dan hanya kaum laku-laki maka group Balo-Balo masa kini sudah jauh berbeda. Sekarang di Kotamadya Tegal sudah bermunculan group Balo-Balo remaja. Bahkan kata pak Saifun M Syam BA, SMA Negeri I Kodya Tegal sudah mempunyai group Balo-Balo yang pemainnya terdiri dari siswa-siswa sekolat tersebut.

Tidak hanya itu saja group Balo-Balo masa kini pemainnya tidak terbatas kaum lelaki saja tetapi kaum Hawapun sudah ikut membaur di dalamnya. Begitu juga dengan syair lagu yang dinyanyikan, sudah banyak gubahan syair yang berisi pesan-pesan Program Pemerintah atau disesuaikan dengan situasi dan keadaan. Sehingga dengan begitu antara pemain Balo-Balo dengan penontonnya lebih mudah terbawa ke arah komunikasi, yang akrab.


Sumber : Majalah Krida 171

Tidak ada komentar:
Write Komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_firmansyh
Join Our Newsletter