0817-640-3452

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

18 September 2018

Memanfaatkan Sampah Menjadi Kompos


Sering kita lihat sampah, dedaunan berserakan di jalan atau di pekarangan. Hal demikian menjadikan lingkungan kurang sedap di pandang mata. Disisi lain limbah-limbah pertanian seperti jerami, batang jagung, alang-alang dan sebagainya ditumpuk begitu saja. Padahal bahan-bahan tersebut dapat diubah (dijadikan) menjadi barang-barang yang lebih berharga, plus bernilai uang. Seperti apakah.? Jawabnya adalah Kompos.

Kompos sebenarnya bisa terjadi secara alami menurut kurun waktu tertentu dan melalui kerja sama antar micro organisme dengan cuaca. Namun proses terjadinya dapat dipercepat dengan cara dibantu oleh perlakuan manusia sehingga dapat menghasilkan kompos yang berkualitas baik.

Syarat Membuat Kompos
Sebagaimana adanya suatu barang, pasti ada syarat atau cara bagaimana barang itu bisa terjadi. Kompospun demikian. Sebelum dibuat kompos, bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat kompos seperti jerami, rumput kering, batang jagung dan sebagainya harus dipotong-potong terlebih dahulu. Semakin kecil potongan bahan mentah yang akan digunakan, semakin cepat proses pembuatan kompos tersebut.

Terjadinya kompos adalah proses kimiawi dan biologi.
Mikroba atau bakteri composer (penghancur) bahan-bahan pembentuk kompos dapat hidup dan berkembang pada pH (keasaman) yang tidak terlalu rendah, oleh karena itu perlu ditambah kapur atau abu dapur untuk membuat kondisi tersebut.

Nitrogen (N) merupakan zat yang dibutuhkan jasad renik atau mikroba untuk tumbuh dan berkembang. Semakin banyak bahan pembentuk kompos makin baik hasilnya, oleh karena itu biasanya ditambahkan urea dalam pembuat kompos.

Untuk menghindari bakteri anaorobic dan mencegah timbulnya bau, kompos harus sering diaduk serta cukup mengandung air dan udara (O2). Oleh karena itu perlu diperciki air sewaktu-waktu untuk menjaga kelembaban. Kelembaban 40 – 60 % sudah dianggap cukup, sedangkan temperature optimum pada kompos berkisar 30 – 40 %C.

Banyak macam dan cara pembuatan kompos yang telah banyak diterapkan. Berbagai macam cara tersebut antara lain : cara tradisional, cara Fa Jaya Tani Medan, cara Muchtar, cara Indore, cara krantz dan cara Leneoir. Pada tulisan berikut hanya akan penulis paparkan cara Indore seperti yang pernah dipraktekkan oleh para mahasiswa Fakultas Peternakan UNSOED dan cara Muchtar.

Kompos Metode Indore
Pembuatan kompos dengan cara  Indore adalah dengan jerami ditumpuk dulu berlapis-lapis setebal  +_ 25 cm. lalu kotoran hewan (pupuk kandang) ditaburkan di atasnya serta diberi urea (bisa diganti dengan urea sapi) dan abu dapur secukupnya. Lapisan di buat bertahap selama kurang lebih 6 hari hingga diperoleh tumpukan ukuran 2.5 X 2.5 m2 dengan ketinggian 60 cm atau menyesuaikan kondisi setempat. Tumpukan dibalik pada hari ke 15, 30 dan 60. Selama dua bulan itu biasanya kompos telah jadi (masak) yang ditandai dengan warna merah coklat tua dan kalau dipegang terasa MAWUR.
 
Kompos Metode Mucktar
Bahan yang digunakan pada metode ini meliputi bahan utama atau bahan mentah (jerami padi, rumput kering, batang jagung dll), kotoran hewan, kapur (abu dapur), urea dan air secukupnya.
Sedangkan alat-alat yang digunakan yaitu sabit, ember, cangkul dan gedhek (anyaman bambu).
Sebelum melangkah membuat kompos, tempat yang strategis perlu mendapat perhatian, sebab hal ini akan memudahkan pengangkutan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat kompos.

Bahan-bahan yang akan digunakan (jerami padi, rumput kering dll) harus dipotong-potong sebelumnya sepanjang lebih kurang 30 cm. bahan yang telah terpotong-potong dicampur dengan kotoran hewan serta diberi air secukupnya. Sebagai patokan dapat digunakan perbandingan 5 : 1 : 15 ( jerami : kotoran hewan : air ). Campuran diaduk sedikit demi sedikit hingga merata.

Sambil diinjak-injak campuran ditumpuk berlapis-lapis hingga 0,75 m. Agar tumpukan rapi dan baik dapat dibuat dengan ukuran 1 X 1 X 0,75 m3 atau dapat menyesuaikan dengan kondisi setempat. Untuk menghindari masuknya air hujan dan terik matahari dapat dibuat gubuk (rumah-rumahan) atau ditutu dengan anyaman bambu (gedek), demikian pula bagian sisi tumpukan. Tumpukan dibiarkan selama dua bulan, setelah dua bulan tumpukan dibongkar dan diaduk, lalu ditumpuk kembali. Baru bulan ketiga kompos telah masak dan siap untuk pupuk.

Demikianlah pembuatan kompos sebagai salah satu usaha alternatif pemanfaatan sampah dan limbah pertanian untuk digunakan sebagai pupuk tanaman, yang tak kalah baiknya dengan pupuk buatan pabrik.

Selamat Mencoba.!


Sumber : Majalah Krida

Tidak ada komentar:
Write Komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_almizan
Join Our Newsletter