0817-640-3452

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

31 Agustus 2018

Jika Ayah Ibu Sering Bertengkar


Anak-anak adalah penonton dan peniru terbaik dari segala sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga. Pertengkaran yang sering terjadi antara ayah dan ibu, yang tak pernah terselesaikan, hanya akan memberi dampak buruk bagi perkembangan jiwa anak. Sepasang muda mudi ketika pertama kali dilanda asmara, biasanya akan selalu bersikap manis, menyenangkan, mesra dan bahagia. Perkelahian hampir tiada. Begitu pula cekcok, pertengkaran atau konflik. Hubungan berjalan mulus dan indah penuh kasih sayang.

Tetapi setelah menjalani kehidupan pernikahan selama bertahun tahun, apalagi setelah anak-anak lahir, biasanya hubungan romantis mesra serta menyenangkan seperti pada masa-masa pacaran atau  bulan madu, akan berubah dengan suasana sebaliknya. Mulailah terjadi kegersangan, pertengkaran dan konflik, yang bisa saja meledak menjadi baku hantam atau saling memukul. Isteri mungkin saja melempar piring ke kepala suami, sementara suamipun mulai mendaratkan tangannya pada wajah si isteri.

Jika adegan buruk ini berlangsung seru, anak-anak biasanya hanya menjadi penonton bisu. Kecuali jika sang anak sudah mulai remaja, sehingga mereka mempunyai inisiatif menjadi “hakim” cilik, juru damai antara ayah dan ibu. Tetapi ada pula anak yang telah berani atau tidak mau menjadi juri adegan baku hantam kedua orang tuanya. Seakan akan adegan seru yang mereka saksikan itu bukan urusan mereka.

Bukan mustahil, ada anak yang justru menyukai adegan baku hantam antara ayah dan ibunya itu. Misalnya anak merasa benci dan dendam terhadap ayah dan ibu, yang memperlakukan terhadap mereka secara tidak mereka senangi. Ketika adegan baku hantam terjadi, bukan mustahil sang anak berharap, semoga orang tuanya yang membencinya menjadi pihak yang kalah. Apalagi jika salah seorang di antara kedua orang tuanya adalah orang tua tiri. Ia berharap semoga orang tua tirinya menjadi pihak yang kalah.

Di dalam kehidupan sehari-hari, pertengkaran antara suami dan isteri agaknya sulit untuk ditiadakan sama sekali. Selisih paham, ketidak setujuan, dan berbagai situasi lainnya selalu siap mengantar pasangan suami isteri kepada munculnya pertikaian, baik yang kecil maupaun yang hebat. Bahkan dikalangan masyarakat ada pendapat bahwa pertengkaran di antara suami isteri adalah bumbu perkawinan. Pendapat ini agaknya berkaitan dengan macam pertengkaran yang bertujuan untuk saling mendekatkan diri dan memahami pribadi masing-masing. Tapi tentu saja pendapat itu sukar diterapkan bagi jenis pertengkaran yang lebih bersifat keinginan untuk mempertahankan sikap dan berkeras untuk tidak saling mencapai titik temu.

Anak-anak adalah penonton yang baik. Apalagi apa yang terjadi dalam panggung keluarga akan terekam dengan baik dibenaknya, dan mewarnai perjalanannya menuju kedewasaan. Bila dalam masa perkembangan ini anak-anak terlalu banyak merekam adegan pertengkaran antara kedua orang tuanya, apalagi kalau pertengkaran itu tanpa dilandasi itikad baik untuk saling bertemu dan meluruskan kesalahpahaman, maka anak-anakpun akan mematerinya sebagai sikap yang kelak harus ditirunya dalam membina keluarga.

Ketika menonton pertengkaran itu dan merekamnya dalam ingatan persepsi anakpun ikut berbicara. Ia akan mencoba memperkirakan, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam peristiwa itu ia akan mencoba melihat dan menyimak sikap yang ditampilkan oleh ayah dan ibunya. Dalam kesempatan itu pula, ia mencoba mempelajari misteri kehidupan perkawinan, hubungan antara suami isteri dan sebagainya. Bila dalam rekamam itu ternyata ia mendapati bahwa ayah atau kepala keluarga akan selalu bisa bersikap dominan tanpa batas, misalnya orang lain tak berhak bicara apa-apa (meski benar), maka bayangan peran dan wewenang itulah yang akan mengantarnya ke dalam mahligai pernikahannya kelak.

Kalau ia anak laki-laki, peran dan sikap yang diambilnya sebagi suami atau ayah. Dan kalau ia seorang perempuan, setidaknya ia sudah bisa memperkirakan, dimana letak kedudukannya di dalam keluarga dan peran seperti apa yang akan dijalankannya. Atau tidaknya, bayangan pengalaman ini akan mereka terapkan pada persepsi-persepsi tertentu yang akan banyak mewarnai peran serta mereka dalam kehidupan keluarganya sendiri. Rekaman peristiwa yang melekat dalam benak itu akan mempengaruhi langkahnya pula dalam menuju gerbang perkawinan. Pengalaman yang diterimanya dalam masa perkembangan ini akan membentuk konsep mereka mengenai peran suami isteri dan kehidupan perkawinan.

Pilihlah Pendekatan Yang Bijaksana
Pertengkaran dan cara yang ditempuh oleh suami isrti dalam mengatasi ketidaksesuaian yang terjadi, juga diikuti secara seksama oleh si anak. Dari rekaman peristiwa itulah ia akan belajar mengenali cara-cara yang ditempuh dalam bentuk pertengaran  pun ikut mewarnai khasanah hidup mereka.

Anak adalah peniru baik. Anak juga belajar tentang norma dan cara-cara mempertahankan diri dalam usaha melakukan penyesuain diri dengan lingkungan, terutama dari keluarganya. Kalau ayah dan ibu selalu memilih pertengkaran sebagai cara penyelesaian masalah dan selisihpaham yang terjadi, agaknya tak perlu heran jika si anakpun akan mengadopsi atau menerapkan sikap seperti itu dalam penyelesaan masalahnya. Kalau orang tua lebih memiliki pendekatan yang bijaksana dalam mencari penyesuaian atas kesalahpahaman yang terjadi, sikap itu pulalah yang akan diambil alih oleh si anak.

Kehidupan perkawinan memang selalu bertaburkan melati dengan tebaran sutra halus sebagai alas berpijak. Suami isteri adalah dua pribadi yang diwarnai oleh latar belakang yang mungkin berbeda. Langkah seiring dan sejalan, barangkali sesekali mengalami hambatan. Dalam upaya menjaga agar keselarasan tetap tercipta, pertengkaran kadang memang sulit dihindarkan. Tetapi dengan dasar ikrar yang sudah diucapkan ketika menikah, agaknya pertengkaran yang terjadi bisa dilakukan tanpa menimbulkan kerugian pada kedua belak pihak, juga bagi anak-anak yang terlibat dalam kehidupan perkawinan.

Dampak Bagi Anak
Pertengkaran yang terus menerus biasanya akan disusul dengan perceraian. Dampak dari situai itu adalah perpisahan di antara anak-anak yang terlibat dalam kehidupan perkawinan tersebut. Biasanya anak-anak dibagi supaya perceraian terasa tetap memberi keadilan bagi semua pihak, anak-anakpun terpaksa ikut sibuk menentukan masa depan mereka. Keakraban yang telah terjalin antara saudara kandung akhirnya dihadapkan pada retak-retak perkawinan yang bisa memisahkan mereka.

Adakah yang ingin mendengar keinginan mereka ? Agak sulit menjawab pertanyaan ini, karena faktor hukum dan adat kebiasaan yang lebih mewarnai keputusan yang dipilih. Sikap anak, perasaan mereka, keinginan mereka, penerimaan mereka terhadap keputusan yang dijatuhkan, hampir tidak memiliki tempat yang layak dalam proses pengambilan keputusan. Mereka harus tunduk pada ketentuan yang berlaku, apapun yang mereka rasakan dan pikirkan.

Situasi keluarga macam ini jelas tidak akan mampu menghindarkan anak dari kesulitan pertumbuhan jiwa. Selain itu, juga memberi warna pada corak kepribadiannya kelak. Bila anak dibesarkan dalam suasana yang penuh pertentangan, sulit untuk mengatakan bahwa ia tumbuh dan berkembang dari ladang persamaian yang subur. Perkembangan pribadinya kelak akan banyak dipengaruhi oleh corak penerimaan anak terhadap kekeruhan situasi rumah tangga yang dihadapinya. Kecemasan, kekhawatiran, ketegangan, ketegaran dan kepahitan dalam menghadapi dan mengalami situasi yang tak nyaman dalam masa perkembangannya itu, akan banyak menanamkan andil bagi pandangannya terhadap hubungan antar manusia, kehidupan perkawinan, dan peranannya kelak sebagai orang tua.

Pendapat yang mengatakan, bahwa latar belakang kehidupan yang telah menempa seseorang dalam perkembangannya kelak akan sangat menentukan corak sikapnya, agaknya memang tidak berlebihan. Dalam masa tumbuh kembangnya, si anak menyimak dan meneliti. Dan dalam proses itu, ia akan tak lepas dari proses adaptasi dan imitasi. Artinya ia selalu mempunyai kecenderungan untuk meniru dan mengambil alih peran yang disuguhkan.

Pandangan anak terhadap kehidupan perkawinan, hubungan suami isteri, peran isteri atau suami fungsi dan tanggung jawab orang tua sebagai pengasuh, pendidik, dan pengayom, ikut meramaikan rumusan masa depannya. Rekaman peristiwa yang dialami selama masa tumbuh kembang inilah yang akan mewarnai sisi pribadi mereka sebagai manusia dewasa, anggota masyarakat.


Sumber : Majalah Krida. Edisi 174. Sri Kustanti. HM

Tidak ada komentar:
Write Komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_almizan
Join Our Newsletter