0817-640-3452

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

26 Juni 2016

Mendapatkan Lailatul Qadr

Lailatul Qadr adalah malam yang sangat istimewa pada bulan suci Ramadhan. Dalam surah Al-Baqaroh ayat 3 disebutkan, Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Kalimat seribu bulan tidak diartikan sebagai angka, seribu bisa berarti banyak dan yang banyak itu umur manusia. Jadi makna angka 1000 adalah kinayah, atau kiasan, dengan maksud seumur hidup manusia itu sendiri. Rata-rata umur umat Baginda Nabi Muhammad SAW 80 tahun, seribu bulan sepadan dengan 83 tahun.

Lailatul Qadr hanya dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad SAW yang memang rata-rata lebih pendek umurnya dibanding umat Nabi terdahulu. Umat sebelumnya belum pernah ada yang mendapatkan anugerah Allah SWT berupa keistimewaan malam Lailatul Qadr. Dalam sebuah hadist yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul Qadr telah dikaruniakan kepada umat ini (umat Nabi Muhammad SAW), dan tidak kepada umat yang lain”.

Sebagaimana dikisahkan dalam beberapa hadist, suatu hari Rasulullah SAW merasa takjub pada ibadah umat Nabi-Nabi terdahulu, yang rata-rata berusia panjang, sedangkan usia umatnya pendek-pendek. Bagaimana mungkin umatnya bisa menandingi jumlah dan frekuensi ibadah umat para Nabi terdahulu? Maka dari itu Allah Ta’alla menganugerahkan Lailatul Qadr kepada umat Rasulullah SAW sebagai ganti umur mereka yang memang rata-rata pendek.

Lantas bagaimana cara untuk meraih keberkahan akan Lailatul Qadr. Lailatul Qadr adanya dimalam hari, tapi menjaga atau mempersiapkan diri untuk mendapatkannya lebih banyak disiang hari. Semakin dekat kita menjaga diri dari hal-hal yang membuat cacad bahkan membatalkan puasa kita, semakin besar pula kesempatan kita untuk mendapatkan keberkahan dari Lailatul Qadr.

Rombongan Malaikat dari alam malakut akan turun ke dunia, untuk menyampaikan rasa hormat kepada manusia yang beribadah, peristiwa ini menjadi sebuah pertanda akan datangnya Lailatul Qadr. Sebab dulu mereka pernah menduga manusia hanya mahluk perusak dan penumpah darah. Tapi dugaan itu salah, karena dibulan Ramadhan seperti saat inilah banyak hamba Allah SWT yang sibuk beribadah, menaati perintah-Nya dan memuji-Nya, memperbagus puasa, sehingga mereka dicintai oleh Allah SWT.

Lailatul Qadr tidak hanya bagi kaum pria saja, namun untuk wanita yang tidak menjalankan ibadah puasa dikarenakan haid terhalang secara syariat, bukan karena sengaja. Jadi, haid itu bukan kesalahan si wanita yang mendapatkannya. Wanita yang sedang haid bisa beribadah dengan cara berdzikir, sebagaimana dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada istri tercinta, Sayyidah Aisyah RA, yakni :

                   “ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN THIBBUL ‘AFWA FA’FUANNI”.

Tidak hanya dengan berpuasa saja kita untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr, akan tetapi menjaga diri dari perbuatan yang mencederai bulan Ramadhan, seperti durhaka kepada orang tua, berzina, minum khamar, memutuskan tali silaturahmi, dan sebagainya. Perbanyak dengan kegiatan positif serta mensucikan diri, memperbanyak ibadah adalah jalan untuk meraih Lailatul Qadr menjadi persyaratan minimal jika kita ingin dikunjungi oleh Lailatul Qadr. Insya Allah jika kita mempersiapkan diri dengan maka kita akan mendapatkan malam Lailatul Qadr. 

Rasulullah SAW juga berpesan kepada para sahabat untuk mencari Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir dibulan Ramadhan. Sebab, pada saat itulah konsiderasi ibadah puasa sudah mendekati puncak terbaik. Karena itu pula kita harus beribadah seperti para sahabat melakukannya. Semakin sungguh-sungguh, dan tidak meremehkan nilai-nilai ibadah dalam bulan suci ini. Karena, dikhawatirkan kita luput dari keberkahan Lailatul Qard yang sangat mulia.

Tanda bagi mereka yang telah mendapatkan Lailatul Qadr seperti gambaran para ulama terdahulu, kita tidak mampu menahan air mata dipagi hari ketika malam harinya turun Lailatul Qadr. tentu saja bukan air mata yang dibuat-buat. Pertanda alamiahnya, langit seakan mendung, tapi bukan pertanda turun hujan, dan pagi harinya matahari bersinar tidak terlalu kuat. Sebab, ketika dimana para malaikat berbondong-bondong kembali dari  alam dunia ke alam malakut. Itulah yang menjadikan sinar matahari terhalang sehingga agar pudar, tidak seperti hari-hari biasanya.


Sumber : Alkisah No.20/22 Sept. 5 Okt. 2008

Tidak ada komentar:
Write Komentar
Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_almizan
Join Our Newsletter