0817-640-3452

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

17 September 2015

Beberapa Faktor Pelanggaran Disiplin Anak di Kelas dan Cara Mengatasinya


Seorang guru mestinya sering atau setidak-tidaknya pernah dibikin keki, kesal, dan marah dengan ulah dan tingkah laku anak yang sering cerewet, usil, onar selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas sehingga membuat suasan kelas menjadi kacau dan mengakibatkan lunturnya sebuah tata tertib kelas. Namun sampai sejauh ini biasanya guru kurang/tidak mau mengerti faktor-faktor apa sebenarnya yang mendorong timbul pelanggaran tata tertib pada diri anak tersebut.

Sikap guru yang kurang/tidak mau mengerti serta sikap masa bodoh inilah yang membuat si guru itu tidak mampu mengatasi tingkah laku anak didik yang melanggar tata tertib yang justru pada gilirannya nanti akan menghambat jalannya kegiatan belajar mengajar di kelas.

Faktor-Faktor Pelanggaran Disiplin / Tata Tertib Kelas Faktor Guru.
Tanpa disadari bahwa gurupun bisa merupakan faktor penyebab timbulnya pelanggaran disiplin yang dapat menghambat terciptanya suasana kegiatan belajar mengajar.

Adapun Faktor dari Murid :
  1. Hak dan Kewajiban Murid. Murid/anak di dalam kelas dapat dianggap sebagai individu sekaligus sebagai mahluk sosial dalam masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Oleh karena itu anak harus tahu hak-haknya sebagai anggota kelompok, masyarakat disamping harus tahu tentang kewajibannya untuk menghormati hak-hak orang lain atau teman sekelas.
  2. Interaksi Murid. Ketertiban kelas sering terganggu karena interaksi antara murid yang satu dengan yang lainnya yang tidak terkontrol oleh guru. Interaksi ini bisa berupa anak bercakap-cakap, berbisik-bisk, tertawa pada waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Interaksi bisa saja terjadi karena pada hakekatnya manusia adalah mahluk sosial yang selalu ingin bergaul dengan manusia  lain melalui pertukaran pikiran namun apabila pertukaran pendapat (interaksi) tidak terkendali maka dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar.
  3. Kepribadian Murid. Kadang-kadang anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan kelas/sekolah karena kepribadian mereka telah terganggu. Karena dimungkinkan kena penyakit jiwa, menderita neurose atau psikose. Pada anak ini akan menunjukkan kelakuan yang agresif, bersikap bermusuhan, suka berdusta, merasa cemas, dan takut yang berlebihan akan tetapi selalu menantang segala peraturan.
Faktor Keluarga dan Lingkungan :
  1. Keluarga Terlalu Bebas. Keluarga yang terlalu bebas, tak ada tata tertib, tak patuh pada disiplin, atau keluarga yang otoriter tanpa memperhatikan kepentingan anak serta lingkungan yang kurang mendukung dengan demikian jelaslah sudah bila tuntutan di kelas / sekolah berbeda jauh dengan tuntutan / kondisi keluarga atau lingkungan anak maka akan merupakan kesukaran tersendiri bagi anak dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan kelasnya yang dianggap serba diatur.
  2. Kurang Perhatian dari Orang Tua. Keluarga lebih-lebih orang tua dan lingkungan kurang memperhatikan diri anak padahal ia butuh kasih sayang dari keluarga atau orang tuanya. Salah satunya jalan yang ditempuh anak sebagai pelampiasan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang maka ia akan berbuat hal-hal yang dapat menarik perhatian teman dan gurunya di kelas.
Adapun faktor-faktor dari guru itu bisa merupakan :
  1. Penampilan Guru. Penampilan guru yang angker dan kurang simpatik membuat anak menjadi takut dan merasa was-was, diam serba menurut atau sebaliknya anak akan berani terhadap guru.
  2. Kepribadian Guru. Guru yang berlaku kurang adil, tidak jujur, kurang objektif, dan kurang fleksibel mengakibatkan kurang terbinanya suasana emosional yang menyenangkan.
  3. Pengusaan Materi Pelajaran. Guru yang kurang menguasai materi pelajaran akan menimbulkan kurangnya kepercayaan anak terhadap guru, wibawa guru turun dan akhirnya anak akan mengabaikan segala perintah guru.
  4. Tipe Kemimpinan Guru. Kepemimpinan guru yang kurang demokratis bahkan guru sangat otoriter, guru kurang menghargai hak-hak otonomi anak dapat menyebabkan sikap anak menjadi pasif atau mungkin menjadi agresif. Demikian juga apa bila sikap guru masa bodoh, acuh tak acuh ( Laissez Faire ) terhadapa murid maka hal inilah yang sering menimbulkan suasana kacau di dalam kelas.
  5. Bentuk Belajar Mengajar. Bentuk belajar mengajar yang monoton menyebabkan anak menjadi bosan, kecewa, frustsi sehingga mengganggu disiplin kelas.
  6. Pengetahuan Guru. Guru kurang atau tidak mengetahui masalah pengelolaan kelas baik secara teoritis maupun praktis.
  7. Perhatian Guru. Guru kurang memberi perhatian kepada murid-muridnya (anak) maka akan menyebabkan diri anak merasa tersisih, dikucilkan sehingga ia berusaha untuk menarik perhatian agar guru menaruh perhatian kepadanya. Dan jalan yang ditempuh adalah membuat keonaran di kelas yang akhirnya mengganggu suasana proses kegiatan belajar mengajar di kelas.
Cara Mengatasi Pelanggaran Disiplin
Dari Guru
Guru merupakan pemeran penting dalam pengelolaan kelas untuk itu agar dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan tertib dan lancar maka selain guru harus menghindarkan dan mengurangi faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran yang datangnya dari guru itu sendiri, seorang guru harus melakukan :

Pendekatan dan Pengenalan Terhadap Anak
Semakin guru mengenal tingkah laku serta latar belakang anak semakin besar pula kemungkinan guru dapat mencegah terjadinya pelanggaran disiplin, sebaliknya apabila guru kurang mengenal, kurang akrab terhadap anak, maka anak akan terasa asing dengan guru, anak merasa kurang diperhatikan sehingga akan berbuat semaunya yang tentu saja dapat mengganggu situasi kelas.

Setiap anak pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mengontrol dirinya. Seorang anak yang tidak dapat perhatian dari guru dan teman lainnya biasanya kurang menghargai otoritas. Oleh sebab itu pengenalan terhadap tingkah laku dan latar belakang anak oleh guru sangat diperlukan.

Pengenalan dan pendekatan terhadap tingkah laku dan latar belakang anak dapat menggunakan alat sebagai berikut :
  1. Interest Inventory. Alat ini berupa sejumlah pertanyaan tentang : pelajaran yang disenangi, buku bacaan yang disenangi, pekerjaan yang di senangi, ( hoby ), acara televisi/ radio yang disenangi, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan para waktu senggang dan lainnya.
  2. Feed Back ( Umpan Balik ). Pada kegiatan ini anak diminta untuk menulis atau membuat karangan tentang perasaan mereka terhadap guru sekolah, dsb.
  3. Sosiogram. Dalam hal ini anak disuruh membuat catatan tentang anak yang paling di senangi, anak yang disenangi, anak yang dibenci, dan anak yang paling dibenci, dll. Kemudian dari hasil catatan ini dibuat sosiogram yang dimaksudkan untuk mengetahui hubungan sosial anak dengan temannya.
  4. Home Visit. Guru perlu mengadakan kunjungan ke rumah / lingkungan anak untuk mengadakan Tanya jawab dengan orang tua, keluarga, serta lingkungan anak guna mengenal situasi keluarga, kondisi keluarga dan lingkungan anak. Dengan demikian guru akan tahu siapa, dan dari mana anak itu berasal, dengan demikian guru akan menghargai anak dengan berbagai keterbatasan tanpa harus pandang bulu.
Dari Orang Tua / Masyarakat
Di sekolah anak menerima pendidikan dengan waktu yang sangat singkat dan terbatas sedang waktu selebihnya anak berada di masyarakat ( keluarga ), dan ini tentu saja merupakan tanggung jawab orang tua / masyarakat. Oleh sebab itu selama anak berada di lingkungan keluarganya hendaknya orang tua / masyarakat mau memperhatikan pendidikan anak, sikap dan tingkah laku anak. Perlu disadari bahwa anak tidak hanya butuh sesuatu yang sifatnya materi saja tetapi secara kejiwaan ia juga sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.

Kerjasama antara Sekolah , Masyarakat, Pemerintah :
Kerjasama Sekolah dengan Orang Tua, Masyarakat. Agar terjadi keselarasan antara situasi dan tuntutan kelas, atau sekolah dengan situasi dan tuntutan keluarga atau masyarakat maka perlu diadakan suatu kerjasama yang baik. Kerjasama dapat dilakukan dengan cara :
  1. Pertemuan Rutin Wali Murid. Hal ini dilakukan setiap 1 bulan sekali, 2 bulan sekali atau 4 bulan sekali.
  2. Konsultasikan dengan Wali Murid atau Tokoh Masyarakat. Konsultasi ini dilakukan apabila guru/sekolah mengalami kesulitan-kesulitan dalam menangani anak didik di sekolah.
Kerjasama Sekolah dengan Pemerintah /  Lembaga Swasta lain. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, masyarakat saja, tetapi merupakan juga tanggung jawab dan pemerintah oleh sebab itu agar pendidikan dapat berlangsung seperti yang dicita-citakan maka perlu diadakan suatu kerjasama yang baik antara sekolah dengan pemerintah semisal :
  1. Dalam menangani hal-hal tertentu sekolah perlu sekali konsultasi atau mendatangi pemerintah setempat (Kepala Desa).
  2. Dalam nenangani anak yang mengalami gangguan kejiwaan sekolah perlu konsultasi dengan lembaga perlu konsultasi dengan lembaga terkait yang sekiranya mampu menangani masalah tersebut misal ke ahli jiwa (Psikolog) atau ke dokter jiwa (Psikiater).

Sumber : Majalah Krida.Drs. Soetedjo
Gambar : http://mimuh2sirau.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:
Write Komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_almizan
Join Our Newsletter