17 APRIL 1960

Ampelgading - Pemalang 52364, INA

4 Mei 2019

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Pemalang


Dari 5 (lima) alternatif yang diajukan Tim UGM Yogyakarta, setelah diadakan seminar Hari Jadi Kabupaten Pemalang yang diselenggarakan pada tanggal 23 September 1994 yang dihadiri oleh Tokoh masyarakat, Kyai/Ulama Budayawan dan lain sebagainya menyarakan sebagai berikut :

1.    Banyak peran Pemalang dalam perjuangan bangsa sehingga Hari Jadi Pemalang diambil dari tokoh yang dapat menjadi teladan dan legendaries di Pemalang;
2.    Pemalang telah lama tumbu dan berkembang dengan ditandai peninggalan Megalitik sehingga Hari Jadi Kabupaten Pemalang hendaknya diambil dari tahun yang tua. Namun karena keterbatasan berbagai informasi terutama yang tertulis, maka setidak-tidaknya diambilkan tahun yang lebih tua dari Kabupaten Tegal/Kodya Tegal dan Kabupaten Brebes. Karena keberadaan Kabupaten Tegal lebih muda dari Kabupaten Pemalang yaitu tanggal 18 Mei 1601 Masehi, untuk Kodya Tegal 12 April 1580 Masehi sedangkan Kabupaten Brebes 18 Januari 1678 Masehi.

Atas dasar tersebut di atas, tahu 1575 diusulkan menjadi dasar tahun keberadaan Kabupaten Pemalang. Dari perhitungan Tim UGM Yogyakarta, bila diambil tahun 1575 maka bertepatan dengan tanggal 22 Januari 1575 Masehi hari Kamis Kliwon 1 Syawal 1496 Je atau 982 Hijriyah. Namun oleh Sdr. Nakadar Slamet Soeharso (ahli penanggalan dari Tegal) 22 Januari 1575 bertepatan dengan hari Selasa Pon buka hari Kamis Kliwon, kalau harinya kamis kliwon bertepatan dengan 1 syawal 1496 Je atau 982 Hijriyah.

Berdasarkan hal tersebut di atas, sesepuh Pemalang antara lain R.M Nadi dari Desa Kecepit kecamatan Randudongkal memberi wawasan agar harisnya diambil hari Kamis Kliwon, tanggal 24 Januari 1575 Masehi. Tim Pemalang, tokoh masyarakat, kyai/ulama dan Budayawan setuju mengenai hal itu sedangkan Tim UGM Yogyakarta menyerahkan kepada masyarakat Pemalang sendiri yang menggunakannya.
Akhirnya pada tanggal 14 Agustus 1996 berhasil ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Pemalang No. 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang dengan dinyatakan sebagai berikut :

“HARI JADI KABUPATEN PEMALANG DITETAPKAN PADA TANGGAL 24 JANUARI 1575 MASEHI BERTEPATAN DENGAN HARI KAMIS KLIWON 1 SYAWAL 1496 JE ANOO JAWANE 982 HIJRIYAH”

Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo “LUNGUDING SABDO WANGSITING GUSTI” yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan / sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751. Sedangkan Tahun 1946 je diwujudkan dengan Candra Sengkala “TAWAKAL AMBUKO WAHANANING MANUNGGAL” yang mempunyai arti harfiah “berserah diri, membuka, sarana / wadah / alat untuk, persatuan / menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.
Adapun sebagai Sesanti Kabupaten Pemalang adalah : “PANCASILA KALOKA PAANDUNING NAGARI” dengan arti harfiah : lima dasar, termashur / terkenal, pedoman / bimbingan, negara / daerah dengan mempunyai nilai 5751. Untuk memberikan daya dorong (motivasi) bagi masyarakat Kabupaten Pemalang dalam melaksanakan pembangunan telah ditetapkan MOTTO PEMBANGUNAN dalam Perda Kabupaten Dati II Pemalang No. 11 Tahun 1990 dinyatakan “ Motto Pembangunan Kabupaten Pemalang adalah IKHLAS”.

Ikhlas mengandung arti bahwa seluruh warga Kabupaten Pemalang dengan tulus hati, dengan hati bersih tanpa pamrih dan selalu percaya kepada kebesaran dan kemurahan Allah Tuhan Yang Kuasa serta berserah diri kepadanya (Lillahi Ta’ala) dalam melaksanakan pembangunan. Kecuali mengandung pengertian tersebut, ikhlas juga merupakan singkatan (akronimnya) dari kata-kata : Indah, Komunikatif, Hijau, Lancar Aman dan Sehat yang masing-masing, syarat dengan kandungan arti yang sangat positif bagi pembangunan di Kabupaten Pemalang. Baik Perda No. 11 Tahun 1990 maupun Perda No. 9 Tahun 1996 keduanya telah diundangankan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Dati II Pemalang No. 6 tanggal 5 Maret 1991 Seri D No. 5 dan No. 9 tanggal 27 Desember 1996 seri D No. 9. Dengan demikian telah mempunyai kekuatan Hukum yang pasti dan bersifat mengikat.
Dari bahan keterangan yang dapat dihimpun Tim Khusus, disimpulkan sebagai berikut :

a.    Pejabat yang memerintah Kabupaten Pemalang pada tahun 1575 Masehi adalah Djinogo Hanjokro Koesoemo bergelar Daroel Ambjah.
b.    Pejabat yang melantik Daroel Ambjah (Djinogo Hanjokro Koesoemo) adalah Pangerah Probo Koesomo bergelar Praboe Anom.
c.    Pada sekita tahun 1575 terjadi peralihan masyarakat Hindu ke masyarakat Islam dengan masuknya agama Islam di Pemalang. Ditandai dengan pergantian pejabat/pimpinanKabupaten Pemalang dari Pangeran Probo Koesoemo kepada Djinogo Hanjokro Koesoemo. Peralihan kekuasaan dengan damai, tenteram tidak terjadi pergolakan.
d.    Letak Ibukota Kabupaten Pemalang pada tahun 1575 M berada di sekitar SMA Negeri 3 (SPG Lama), gedung Kridanggo dan Swalayan Pemalang Permai (disebelah timur Alun-alun Kota Pemalang saat ini.
Untuk melihat pejabat yang memerintah Pemalang dapat dilihat di....


Sumber : Riwayat/Sejarah Pemalang. Digandakan oleh Bagian Pemerintahan Setda Kab. Pemalang tahun 2004

Pelacakan Hari Jadi Kabupaten Pemalang



Untuk pelacakan Hari Jadi Kabupaten Pemalang telah dibentuk Tim berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pemalang tanggal 1 Maret 1993 Nomor : 188.4/531/Hk tentang pembentukan Tim Penyusun Hari Jadi Kota Pemalang dan sejarah Perjuangan Kemerdakaan Republik Indonesia di Pemalang, dengan tugas antara lain :
a.    Mencari, menghimpun, meneliti dan menganalisa dokumen perjuangan Kemerdakaan Republik Indonesia;
b.    Menyusun Buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Pemalang;
c.    Menyususn Buku/naskah laporan Hari Jadi Kota Pemalang

Demi suksesnya pelacakan Hari Jadi kabupaten Pemalang diadakan kerjasama antara Dekan Fakultas Sastra Universitas Gajahmada Yogyakarta dengan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pemalang yang dituangkan dalam berita acara kerjasama tanggal 10 September 1992. Tim Penyusun Hari Jadi Kabupaten Pemalang dari UGM membagi tugas atas 3 (tiga) kelompok yaitu kelompok pencari data di Pemalang bertugas mengumpulkan data yang ada di Kabupaten Pemalang dan sekitarnya, kelompok pencari data di Yogyakarta mengumpulkan data yang ada di Keraton Yogyakarta dan Surakarta dan kelompik pencari data di Jakarta bertugas mengumpulkan data yang ada di arsip Nasional, Musium Pusat Jakarta dan Dokumen yang ada di Negeri Belanda.


Adapun untuk Tim Kabupaten Pemalang bertugas membantu Tim UGM dalam melakukan pelacakan di kabupaten Pemalang. Pelacakan di Kabupaten Pemalang antara lain dilakukan melalui wawancara dengan para Tokoh masyarakat/sesepuh, melacak dokumen tertulis, mendatangi tempat-tempat yang dimungkinkan terdapat data seperti di Komplek Kabupaten Pemalang, Kesepuhan, Komplek Makam di Masjid Agung Pemalang,  Makam  Maulana Magribi di Kendaldoyong Kecamatan Petarukan, Makam Mbah Cempaluk di Kecamatan Bodeh, Makam Mbah Mengoneng di Bojongbata, Komplek Cempaka Wulung di Kecamatan Moga, Makam di Desa Kecepit Kecamatan Randudongkal.

Disamping itu masih banyak tempat-tempat lain yang belum terjangkau. Namun pelacakan di Kabupaten Pemalang belum menemukan bukti-bukti tertulis. Dari hasil pelacakan tersebut di atas Tim UGM Yogyakarta mengajukan 5 (lima) alternatif Hari Jadi Kabupaten Pemalang sebagai berikut :
1.    Tangal 22 Januari 1575 Masehi bertepatan dengan hari Kamis Kliwon 1 Syawal 1496 Je Anno Jawane atau 982 Hijriyah;
2.    Tangal 11 Agustus 1589 Masehi bertepatan dengan hari Sabtu Kliwon 17 Kuruwelut 1 Syawal 1509 Jimawal atau 997 Hijriyah;
3.    Tanggal 9 Agustus 1622 Masehi bertepatan dengan hari Selasa Kliwon Wuku 29 Dukut, 2 Syawal 1543 Dal atau 1031 Hijriyah;
4.    Tanggal 20 Juli 1823 Masehi bertepatan dengan Hari Minggu Pon Wuku 14 Mandasiya 12 Dulkoidah 1750 Je atau 1238 Hijriyah;
5.    Tangggal 20 Juli 1825 Masehi bertepatan dengan hari Rabu Wage 28 Kulawu, 4 Besar 1752 atau 1240 Hijriyah;


Sumber : Riwayat/Sejarah Pemalang. Digandakan oleh Bagian Pemerintahan Setda Kab. Pemalang tahun 2004

Kebangkitan Nasional, Frontier Spirit dan Mental Menerabas


Pemuda Tjipto Mangunkusumo, kelahiran Ambarawa 1886. masih berusia belasan tahun ketika ikut dalam kegiatan Budi Utomo, Organisasi yang didirikan tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta tersebut dipelopori oleh pelajar dari STOVIA (School tot opleiding voor Indische Artsen). Tjipto Mangunkusumo adalah alumnus STOVIA tahun 1905. Pada awalnya Budi Utomo hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara.


Tercantum dalam anggaran dasarnya bahwa mereka bertujuan memajukan nusa dan bangsa secara harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, tehnik dan industri serta kebudayaan. Dalam kepengurusan  yang pertama dimana Tirto Kusumo yang menjabat Bupati Karang Anyar ditunjuk sebagai Ketua, kemudian Dr. Wahidin Sudiro Husodo sebagai Wakil Ketua, sedang Tjipto Mangunkusumo sebagai Komisaris.

Baca Juga : Makna Lambang Kabupaten Pemalang

Meskipun kemudian Budi Utomo menjadi unsur penting didalam Volksraad tahun 1918 dan kegiatannya tidak beroerientasi pada kegiatan politik namun pada bulan desember 1921 Budi Utomo memutuskan untuk terjun dalam kancah politik. Gebrakan politik mereka  yang pertama adalah menuntut agar Volksraad (semacam DPR) terdiri dari sebagian besar orang Indonesia.

Dalam perkembangan Budi Utomo mengalami semacam disintegrasi internal. Sementara pihak generasi tua, menginginkan tetap bersikap kooperatif dengan pemerintah jajahan sedangkan generasi mudanya cenderung bersikap non kooperatif. Namun nasionalisme yang semakin membara membuat mereka semakin bersikap keras dan menentang pemerintah Hindia Belanda.

Kongres yang diadakan tahun 1932 melahirkan keputusan yang sangat radikal : Mencapai Indonesia Merdeka. Dari Budi Utomo inilah lahir Parindra (Partai Indonesia Raya). Satu hal yang sangat penting dicatat dari serangkaian perjuangan Budi Utomo adalah semangat pengurusnya yang memperjuangkan kepentingan bangsa dan negaranya.

Tumbuhnya semangat yang demikian itu pada pemuda pelajar anggota Budi Utomo telah dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah bangsa kita : yaitu sebagai kebangkitan nasionalisme. Maka tidak berlebihan kalau kelahiran Budi Utomo tanggal 20 Mei dijadikan hari Kebangkitan Nasional. Kalau kita amati apa yang dilakukan oleh Tjipto Mangunkusumo dan teman-temannya, pada dasarnya memiliki nilai-nilai kehidupan yang perlu ditauladani oleh generasi muda dewasa ini.

Nilai kehidupan tersebut adalah semangat kepeloporan yaitu semangat yang mau mengawali sesuatu yang pada awalnya tidak menghasilkan sesuatu ; bahkan sering mendapatkan tantangan hambatan, sebelum melahirkan sesuatu hasil yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Semangat kepeleporan atau frontier spirit jelas memerlukan idealisme yang tinggi, sikap mengedepankan semangat produktif  bukan semangat konsumtif, keinginan mau menderita dan kemauan untuk berjuang tanpa pamrih.

Dalam frontier spirit seorang pemuda harus menomor duakan keuntungan material meskipun kegiatan yang dirintisnya kelak akan menghasilkan keuntungan material. Jadi dengan frontier spirit, seorang pemuda benar-benar mengesampingkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi, bayangan terhadap imbalan materiel maupun keinginan untuk cepat-cepat menghasilkan sesuatu. Dalam semangaat ini seorang pemuda harus jauh dari glamouritas kehidupan, sikap konsumtif dan hura-hura.

Dan sebaliknya dia harus menderita. Dan karena dia mengawali sesuatu yang belum pernah ada, dia harus siap dicemoohkan orang lain bahkan dia harus siap tidak menikmati hasil yang diperjuangkan. Karena mungkin apa yang akan dihasilkannya baru akan terwujud belasan bahkan puluhan tahun di kemudian hari. Tjipto Mangunkusumo mungkin merupakan pemuda yang dapat di tauladani dengan semangat kepeloporannya. Setelah tamat dari STOVIA dia menjadi dokter di Demak. Dibandingkan dengan penduduk pribumi pada umumnya pada waktu itu, kehidupannya jauh lebih baik.

Tetapi keinginannya untuk memajukan bangsanya telah mendorong ia untuk menentang pemerintah Hindia Belanda. Dia banyak menulis tentang penderitaan rakyat akibat penjajahan disurat kabar De Express.  Ketika tahun 1910 dia dianggap berhasil membasmi wabah pers di Malang. Pemerintah Belanda menganugerahkan bintang Orde Van Oranje Nassau. Tetapi anugerah tersebut dikembalikan. Dia bahkan mendirikan Indiche Partij bersama dengan Dauwe Dekker dan Suryadi Suryadiningrat, yang merupakan partai politik I di Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Keinginannya yang kuat untuk melibatkan bangsanya merdeka, membuat dia harus dibuang antara lain di negeri Belanda, Banda neira, Ujung pandang dan Sukabumi ia meninggal di Jakarta tahun 1934. Tetapi apa yang diperjuangkan akhirnya menjadi kenyataan yaitu Indonesia Merdeka. Dia tidak meniktmati hasil perjuangan. Tetapi dengan Keppres No. 109/1964, 2 Mei 1964 diangkat sebagai pahlawan Pergerakan Nasional dan namanya diabadikan pada Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta.

MENTAL MENERABAS
Masalah kita bersama sekarang adalah apakah frontier spirit Tjipto Mangunkusumo telah juga diteladani oleh pemuda masa sekarang. Atau dengan pertanyaan lain seberapa tinggikah idealisme generasi muda dan seberapa besarkah keinginan mereka untuk mau memperlopori sesuatu yang hasilnya berguna untuk bangsa dan negaranya; tetapi pada awalnya memerlukan ketekunan, penderitaan dan ketabahan karena tidak akan mendapatkan keuntungan materiel. Kalau kita telusuri beberapa tokoh generasi muda dengan berbagao kegiatannya selama ini, tentu semangat yang demikian itu ada tetapi orang cenderung untuk berfikir pesimis.

Generasi muda dewasa ini adalah generasi muda yang penuh godaan mereka adalah manusia-manusia modern yang dikitari dengan semangat konsumerisme dimana barang-barang mewah hasil tehnologi mutakhir menawarkan kenikmatan duniawi : mobil, TV berwarna, tape recorder, video, computer, kulkas, AC, film, video game dan sebagainya. Sementara itu hidup semakin praktis dan menawarkan kemungkinan untuk mendapatkan barang-barang konsumtif tadi dalam waktu yang cepat.

Generasi muda masa kini terancam kehilangan idealisme dan frontier spirit, ketika anak-anak muda berwajah rupawan, namanya meroket menjadi bintang film atau penyanyi pop. Dalam waktu yang teramat singkat mereka menjadi jutawan muda. Tiba-tiba mereka memiliki rumah mewah, merrcy atau BMW, bepergian ke luar negeri dan tentu saja pakaian model mutakhir. Sebagian generasi muda sekarang, bermimpi menjadi penyanyi pop atau artis film. Mereka kepingin pula menikmati kemewahan dalam waktu yang cepat, tanpa harus hidup prihatin atau menderita.


Sumber : Majalah Krida. Edisi 151

22 April 2019

Makna Lambang Kabupaten Pemalang


Sebagian besar Warga Kabupaten Pemalang tentu sudah paham dengan lambang daerahnya. Namun hanya sedikit yang mengerti arti lambang daerah tersebut. Lambang Kabupaten Pemalang terdiri dari lambang berbentuk kurdi-pertala segi lima, bintang, pengapit lambang, nama daerah dan lampu pedalangan. Kelima bagian tersebut disusun sedemikian rupa hingga nama daerah terletak diantara daun lambang dengan lampu blencong /  pedalangan, kesemuannya ada didalam perisai wadah.


Berdasarkan ketetapan DPRD Gotong Royong Kabupaten Pemalang tertanggal 1 Juni 1968 tentang Penetapan Bentuk dan Arti Lambang Daerah Kabupaten Pemalang, Lambang Daerah Kabupaten Pemalang mempunyai arti tersendiri. Bentuk Kurdi-Pertala (Kendi dari tanah) berbentuk dasar segilima, melambangkan dasar falsafah negara, yaitu Pancasila. Bintang bersudut lima berwarna kuning emas melambangkan kepercayaan rakyat Kabupaten Pemalang terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kubah berwarna biru melambangkan keimanan dan ketaqwaan rakyat Pemalang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bambu Runcing melambangkan kepahlawanan dan kesatriaan rakyat Pemalang. Gunung (Gunung Slamet) adalah suatu ciri yang khusus bagi Kabupaten Pemalang karena gunung slamet meruapakan satu-satunya gunung di Pemalang. Pegunungan (bentuk benteng atau tangga-tangga) melambangkan keadaan alamaiah daerah Pemalang. Di dalamnya terkandung hasil-hasil hutan antara lain glagah arjuna, jati dan pohon pinus sebagai komoditi ekspor. Garis horizontal berwarna putih melambangkan batas antara daerah datar dan pegunungan.

Pohon beringin melambangkan suatu pengayoman dari Pemerintah Daerah terhadap rakyatnya. Dua lidah api yang berpadu dengan Bambu Runcing yang merupakan satu rangkaian tunggal melambangkan kepahlawanan dalam mempertahankan Bumi Pertiwi dari Imperialisme /  kolonialisme. Dua Bilah Keris dengan bentuk yang sama besarnya dengan ujung ke atas melambangkan kesatriaan patriot-patriot Pemalang dalam sejarah perjuangan, serta menggambarkan peninggalan sejarah kebudayaan yang tinggi. Dua pusaka tersebut (Kyai Sitapak dan Kyai Simonglang) yang sama besarnya memancar melalui sebelah bawah membelok ke atas di belakang dengan lidah api merah menyala ke atas dengan  pesisir kuning.

Berarti rakyat Pemalang selalu mempunyai semangat perjuangan yang menyala-nyala. Layar Perahu melambangkan kemudi alam dengan sifat terpimpin dalam arus gelombang yang mencoba menggulingkan “Struggle for life” namun layar tetap tegak berkembang melawan hempasan gelombang dan derunya angin yang meniup kencang. Perahu melambangkan sifat-sifat kebahariawan. Merupakan kejayaan di lautan yang dimiliki rakyat Pemalang. Laut Bergelombang (tiga buah) melambangkan bahwa sifat rakyat Pemalang selalu bergerak maju mengikuti program Pemerintah untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.

Arus laut suatu saat tenang dan bergelombang di saat lain, mencerminkan watak rakyat Pemalang yang selalu tenang dan bergerak dalam sejarah perjuangan. Padi dan Kapas melambangkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata. Perpaduan dari bintang, padi dan kapas melambangkan hari depan rakyat Pemalang dalam menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan Pancasila. Jumlah kapas 17 (tujuh belas) buah, Api yang berlidah 8 (delapan), dan Padi berbulir 45 (empat puluh lima) melambangkan hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Sedangkan Blencong (lampu pedalangan) melambangkan keindahan seni dan budaya terutama dengan motif Wayang Kulit ataupun dengan motif Gajah Mada sekaligus merupakan penerangan dan penyebaran agama.

Lambang Daerah Kabupaten Pemalang diciptakan oleh Waluyo, mantan Kasubbag Umum Setwan. Sebelumnya pada tahun 1967-1969 ketika dirinya mengikuti Pendidikan Keuangan P3KM DepKeu di Semarang, mendapat edaran tentang lomba logo Kabupaten Pemalang. Merasa tertarik kemudian mengirimkan 2 (dua) gambar. Rupanya dia tidak sendiri, 65 (enam puluh lima) orang peserta mulai mendaftar. Setelah diambil lima finalis, akhirnya ia terpilih sebagai pemenangnya.



Sumber : Riwayat/Sejarah Pemalang. Digandakan oleh Bagian Pemerintahan Setda Kab. Pemalang tahun 2004

14 April 2019

Tips Membuat Pakan Lele dari Dedak Bekatul


Jika anda budidaya lele dan menggunakan pakan pelet yang banyak dijual dipasaran tentu akan mengeluh dimana harga pakan lele yang sedikit mahal. Padahal konsumsi pelet untuk lele dalam jumlah 400 ekor hanya berkisar 12 hari. Karna semakin besar lele akan semakin banyak dalam mengkonsumsi makanan. Jika kita tidak mensiasati hal tersebut akan cukup merepotkan dalam pembelian.

Baca Juga : Tanaman Bonsai

Berdasarkan pengalaman penulis diperlukan adanya pakan lele alternatif yang bisa kita buat sendiri, manfaat dari pakan lele alternatif disamping membuat lele cepat panen dan cepat berkembang juga menghemat anggaran. Tidak ada salahnya patut kita coba membuat pakan lele alternatif menggunakan bahan disekitar kita seperti dedak bekatul.  Dedak bekatul sendiri adalah pakan yang dibuat hanya untuk unggas saja, tetapi dalam perkembangannya masyarakat sudah memiliki kemampuan untuk meramu sendiri pakan lele dengan bahan dedak bekatul.
Persiapan pembuatan pakan :
  1. Persiapkan dedak bekatul sebanyak 5 kg
  2. Garam dapur sebanyak 5 sdm
  3. Minyak sayur secukupnya
  4. Pelet ikan sebanyak 2,5 kg
  5. Air bersih 5 liter
Cara pembuatan pakan Alternatif Lele
Setelah bahan sudah disiapkan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pembuatan pakan alternatif seperti dibawah ini :
  1. Campurkan semua bahan yang sudah disiapkan tadi seperti, dedak, garam dapur, pelet ikan dan juga air bersih kedalam panci besar untuk perebusan.
  2. Aduk hingga rata dan rebus hingga berwarna kecoklatan tua.
  3. Tunggu hingga 1 jam dan masukkan minyak sayur, aduk kembali kemudian tiriskan.
  4. Tunggu sampai 1 malam lalu berikan pada ikan lele pada kolam.
  5. Kepalkan pakan lele agar bisa disimpan dengan rapi dan juga ditempatkan.
  6. Lakukan pemberian pakan cukup 2 kali sehari.
  7. Untuk lebih efektif lakukan pemberian pakan pada malam hari agar pertumbuhan pada lele cepat.

Demikian semoga berhasil dalam meracik pembuatan pakan lele alternatif.


Sumber : http://www.infopeternakan.com/meramu-dedak-bekatul-menjadi-pakan-alternatif-lele.html

Tanaman Bonsai


Pada prinsipnya semua jenis tanaman dapat dibuat bonsai, terkecuali tanaman Jeruk maupun Flamboyan, memang lebik baik bila dijadikan bonsai adalah tanaman tahunan, bukan tanaman semusim. Misalnya : pohon asam, pohon beringin, Jambu Biji, Sawo dan lain-lain. Dengan memotong akar utama untuk dijadikan bonsai kurang sesuai dengan persyaratan perkerdilan. Adapun perkerdilan dilakukan dengan menghambat pertumbuhan akar utama, akan tetapi bila akar utama dipotong kurang memenuh etika bonsai, karena yang tumbuh tinggal akar cabang bonsai yang baik adalah bonsai yang memiliki akar utama, dengan cara hanya memotong akar-akar cabang.

Baca Juga : Persilangan Tanaman

Adapun maksud mengikat dengan  kawat agar bibit bonsai yang baru kita tanam itu tidak goyah, yaitu pangkal pohonnya kita ikat dengan kawat tembaga pada sepotong bambu yang ada dibawah pot, melalui lubang pot. Kelak apabila pohon-pohon itu tumbuh dengan baik dan tidak roboh, kawat pengikatnya bisa dilepas. Bonsai sendiri berasal dari kata, bon : jambangan, sai : pohon, bonsai berarti pohon yang ditanam dijambangan. Bonsai mempunyai pengertian pohon kerdil didalam pot sebagai hasil pengerdilan dan training (proses penyempurnaan bentuk pohon) yang pada umumnya memerlukan waktu bertahun-tahun. 

Tidak setiap pohon yang kerdil didalam pot dapat dinamakan bonsai, hanya jika diusahakan penyempurnaannya terutama bentuknya, maka ia dapat disebut bonsai, karena untuk disebut bonsai, pohon yang bersangkutan harus memenuhi 3 syarat :

1.    Bentuk ; Wajar, sesuai dengan bentuk-bentuk jenis tanaman yang bersangkutan yang tumbuh di alam bebas, serta ada keseimbangan, terutama dalam pertumbuhan dahan-dahannya.

2.    Ukuran ; Kecil atau relatif kecil (kerdil) disebut relatif kecil karena ada juga bonsai yang terbuat dari jenis tanaman tertentu berukuran cukup besar yaitu ± 1½ m. Akan tetapi mengingat bahwa saudara-saudaranya sejenis yang tumbuh dialam bebas, pada umumnya mencapai tinggi sekita 20 m, maka yang berukuran ± 1½  ini tergolong kerdil juga.

3.    Umur ; Tua, biasanya berumur belasan tahun, puluhan, bahkan ratusan tahun.

Kalau kita kembali melihat 3 syarat diatas, mestinya pengertiannya tidak bisa, karena ditanam diluar pot (tanah biasa) berarti pertumbuhan tanaman khususnya akar tidak dapat dibatasi. Meskipun bonsai dapat diusahakan bahan dengan pot saja,misalnya batu karang.

Jadi tempat yang biasa untuk menanam bonsai adalah, Bata yang permukaannya bercelah-celah (berpori-pori), dan Terakhir adalah pot yang dangkal.


Sumber : Majalah Krida 160
Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - fandi_firmansyh
Join Our Newsletter